Pembangunan Zona Integritas Dengan Baik

Pembangunan Zona Integritas Dengan Baik

Pembangunan Zona Integritas Dengan Baik

Pembangunan Zona Integritas Dengan Baik. Departemen Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) merupakan salah satu lembaga pemerintah yang memiliki peran penting dalam mengelola pemuda dan olahraga di Indonesia. Dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja, Kemenpora telah melakukan sosialisasi manajemen risiko dan Bimtek pembangunan zona integritas. Diharapkan, implementasi dari dua program ini dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang signifikan bagi Kemenpora.

Sosialisasi Manajemen Risiko

Manajemen risiko merupakan suatu pendekatan yang digunakan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko yang mungkin terjadi dalam suatu organisasi. Risiko dapat berasal dari berbagai faktor, seperti keuangan, operasional, reputasi, atau hukum. Dengan melakukan sosialisasi manajemen risiko, Kemenpora bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya mengelola risiko secara efektif.

Sosialisasi manajemen risiko dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti seminar, workshop, atau pelatihan. Peserta dari sosialisasi ini meliputi seluruh pegawai Kemenpora, termasuk pejabat struktural dan fungsional. Melalui kegiatan ini, diharapkan para pegawai dapat memahami konsep dasar manajemen risiko, mengidentifikasi risiko yang mungkin terjadi dalam pekerjaan mereka, serta mengembangkan strategi untuk mengurangi atau menghilangkan risiko tersebut.

Bimtek Pembangunan Zona Integritas

Zona integritas merupakan suatu konsep yang diterapkan dalam pengelolaan pemerintahan untuk menciptakan lingkungan kerja yang bersih, transparan, dan bebas dari korupsi. Kemenpora sebagai lembaga pemerintah memiliki komitmen untuk membangun zona integritas dalam pelaksanaan tugas dan fungsi organisasinya.

Untuk mewujudkan zona integritas, Kemenpora telah menyelenggarakan Bimtek (Bimbingan Teknis) bagi seluruh pegawai. Bimtek ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya integritas dalam menjalankan tugas, serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam mengidentifikasi dan mencegah tindakan korupsi.

Dalam Bimtek tersebut, peserta akan diberikan materi tentang prinsip-prinsip integritas, tata nilai, kode etik, serta langkah-langkah pencegahan korupsi. Selain itu, peserta juga akan diajak untuk melakukan diskusi dan berbagi pengalaman terkait implementasi zona integritas di lingkungan kerja mereka.

Harapan Terimplementasinya dengan Baik

Sosialisasi manajemen risiko dan Bimtek pembangunan zona integritas yang telah dilakukan oleh Kemenpora diharapkan dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi lembaga ini. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang manajemen risiko, pegawai Kemenpora diharapkan dapat mengidentifikasi dan mengelola risiko dengan lebih efektif, sehingga dapat menghindari atau mengurangi dampak negatif yang mungkin terjadi.

Sementara itu, melalui Bimtek pembangunan zona integritas, diharapkan pegawai Kemenpora dapat memahami pentingnya integritas dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka. Dengan memiliki pegawai yang memiliki integritas tinggi, Kemenpora dapat lebih efektif dalam menjalankan tugasnya untuk melayani masyarakat dan mengelola pemuda dan olahraga di Indonesia.

Sebagai kesimpulan, sosialisasi manajemen risiko dan Bimtek pembangunan zona integritas Kemenpora merupakan langkah yang penting dalam meningkatkan kinerja dan integritas lembaga ini. Diharapkan, implementasi dari dua program ini dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang nyata bagi Kemenpora dalam mengelola pemuda dan olahraga di Indonesia.

Jakarta: Kegiatan Sosialisasi Manajemen Risiko dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembangunan Zona Integritas yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) melalui Inspektorat diharapkan bermanfaat dan bisa diimplementasikan dengan baik oleh seluruh peserta di masing-masing unit.

Pembangunan Zona Integritas Dengan Baik

Hal itu disampaikan Inspektur Kemenpora Agus Widaryanto secara virtual kepada para peserta di The Belleza Hotel, Jalan Permata Hijau Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (13/12) sore. Inspektur mengatakan pelaksanaan Manajemen Risiko dan Pembangunan Zona Integritas di Kemenpora sangat penting dalam menjalankan Reformasi Birokrasi.

Pembangunan Zona Integritas Dengan Baik

“Dalam menjalankan manajemen resiko dan pembangunan zona integritas memang tidaklah mudah, dibutuhkan komitmen pimpinan hingga semua pegawai. Tapi saya yakin, manajemen resiko dan pembangunan zona integritas bisa dilakukan di Kemenpora sebagai bentuk implementasi Reformasi Birokrasi,” kata Inspektur.

Agus juga berharap semua materi yang disampaikan oleh para narasumber selama acara berlangsung bisa menjadi ilmu yang bermanfaat. “Saya ingin semua peserta yang sudah mengikuti acara ini mendapatkan ilmu yang bisa dimanfaatkan dan dijalankan dengan baik di unit masing-masing,” harapnya.

Pembangunan Zona Integritas Dengan Baik

Salah satunya mengenai strategi pembangunan zona integritas yang menurutnya ada lima yakni, Membangun komitmen nyata dan semangat perubahan yang besar dari level pimpinan tertinggi hingga seluruh jajaran. Menciptakan kemudahan, kecepatan, dan transparansi pelayanan bagi masyarakat atau pengguna layanan.

“Selain itu kita juga harus bisa Menciptakan program-program yang menyentuh, yaitu program yang mampu menjawab kebutuhan dan mendekatkan unit kerja kepada masyarakat/pengguna layanan, Melaksanakan monitoring dan evaluasi secara konsisten dan berkelanjutan terhadap pelaksanaan ZI. Dan yang penting  Menetapkan strategi komunikasi publik terbaik untuk memastikan bahwa setiap perubahan yang dilakukan, telah diketahui dan delivered kepada masyarakat,” katanya.

menpora

Jejak Sejarah Kelembagaan Kemenpora dari masa ke masa

Tonggak sejarah kelembagaan yang mengurusi pembangunan kepemudaan dan keolahragaan sebenarnya sudah ada sejak masa awal kemerdekaan Indonesia. Sebagaimana penelusuran tim tentang sejarah pengelolaan kegiatan olahraga dan pemuda oleh negara diketahui pada susunan Kabinet pertama yang dibentuk pada tanggal 19 Agustus 1945. Kabinet yang bersifat presidensial memiliki Kementerian Pengajaran yang dipimpin oleh Menteri Ki Hajar Dewantoro. Kegiatan olahraga dan pendidikan jasmani berada di bawah Menteri Pengajaran. Istilah pendidikan jasmani dipergunakan dalam lingkungan sekolah sedangkan istilah olahraga digunakan untuk kegiatan olahraga di masyarakat yang berupa cabangcabang olahraga. Usia kabinet pertama yang kurang dari tiga bulan kemudian diganti dengan Kabinet II yang berbentuk parlementer di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang dilantik pada tanggal 14 November 1945.

Tangan Kanan MengepalMerupakan wujud Tekad, Semangat, Kokoh, Teguh, Kemauan kuat Pemuda untuk menjaga Negara Kesatuan Repubik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta Bhineka Tunggal Ika

Tiga pilar pada tangan mengepal : mempunyai makna ketiga peristiwa sejarah yaituKebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928 dan Kemerdekaan Indonesia 1945 yang Pelaku utamanya adalah Pemuda.

Warna Biru : mempunyai makna lambang/simbolik : Keliasan Pandangan dan Pikiran, Smart, Bergerak Maju, Inovatif dan Inspiratif, Kedewasaan, Kematangan, Penguasaan Ilmu Pengetahuan, dan Dinamis